Kisah Giska Fuzna Aghnia, Sembilan Tahun Derita Low Vision | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 24 Des 2019,

Meski memiliki keterbatasan, para penyandang disabilitas banyak kesempatan untuk berkarya. Seperti yang dilakukan oleh Giska Fuzna Aghnia. Mahasiswi jurusan Administrasi Bisnis ini memiliki low vision sejak SMA. Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangatnya untuk berkarya.
Kepada Malang Post, Giska menceritakan kisahnya. Pertama kali, ia divonis dokter mengalami low vision pada tahun 2010 yang disebabkan karena virus toksoplasma.
“Awalnya mulai dari mata kiri dulu. Kemudian, merambat ke sebelahnya. Waktu itu, berpikir bahwa mata saya kotor dan hanya perlu dibersihkan,” kata perempuan berhijab itu.
Giska mengaku, penderita low vision itu memiliki daya tangkap penglihatan yang beragam. Jika memang cenderung parah, bisa mengalami kebutaan.
"Tergantung penyakitnya. Kalau sering check up sih diupayakan supaya penglihatannya tetep stay, nggak mengalami penurunan," papar dia.
Setelah itu, ia mencoba mendatangi dokter mata. Sesampainya disana, ia justru ditegur oleh sang dokter. “Langsung dimarahin, soalnya udah bermasalah selama satu bulan tapi baru dibawa ke dokter. Setelah beberapa kali kontrol, mata saya nggak bisa diapa-apain,” jelas perempuan asal Garut, Jawa Barat itu.
Kemudian, ia dirujuk ke salah satu rumah sakit yang ada di Bandung. Di sana, ia menjalani pengobatan selama enam bulan.
“Akhirnya, hasilnya sama, mata saya sudah nggak bisa diapa-apain. Saat itu, saya langsung merasa terpukul. Sebab, saya sekolah di tempat favorit. Kalau saya begini, bagaimana caranya saya bersaing prestasi dengan teman yang lain,” kenang dia.
Ketika kali pertama terkena low vision, ia sempat mengalami inflamasi peradangan di mata. Akhirnya, selama dua minggu ia tidak sekolah.
“Karena nggak mau ketinggalan pelajaran, akhirnya kembali ke sekolah,” beber dia.
Sejak saat itu, Giska mengaku kesulitan belajar karena penglihatannya yang mulai menurun. Namun, para guru di sekolahnya justru membantu dirinya untuk menyerap mata pelajaran.
“Akhirnya, saya janji ke diri saya sendiri. Meski ada keterbatasan penglihatan, saya masih ingin menunjukkan prestasi dengan kemampuan yang saya miliki,” lanjut perempuan yang hobi menyanyi ini.
Selain itu, Giska mengaku sering mengalami kesulitan penglihatan. Ia merasa, setiap objek yang dilihatnya seolah ada sesuatu yang menghalangi.
"Pokoknya ketika melihat sesuatu susah semua. Soalnya semua objek seperti ada yang menghalangi," lanjut dia.
Sehingga, ia tidak berani mengendarai sepeda motor sendiri. Selain itu, ia juga merasa kesulitan untuk mengenal wajah orang lain.
"Nggak bisa hapal muka orang dan nggak bisa cari tempat. Jadi harus dipanggil soalnya susah cari orang di tempat ramai," lanjut dia.
Meski mengalami keterbatasan, dia tidak ingin diremehkan oleh teman-temannya.
“Saya ingin membuktikan kepada mereka kalau saya tidak lemah dan mampu meraih prestasi. Saya tidak mau dikasihani,” jelas perempuan yang juga hobi bermain piano ini.
Selama di kelas, ia juga menggunakan alat bantu khusus. Apalagi, banyak materi hitungan yang harus benar-benar dimengerti hingga membutuhkan alat. Giska mendapat bantuan alat bantu penglihatan dari Yayasan Bakti Luhur. Kalau harus beli sendiri, harganya cukup mahal, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung dari kapasitas daya tangkap penglihatan.
"Saya menggunakan alat bantu teropong hingga luv. Sementara ketika menggunakan laptop dan ponsel, ada aplikasi khusus,” lanjut dia.
Pelan tapi pasti, Giska mulai aktif di berbagai lomba. Mulai dari vokal grup hingga debat essai Bahasa Indonesia. “Semasa SMA, saya pelan-pelan aktif mengikuti lomba. Alhamdulillah, untuk lomba depat, pernah meraih juara tingkat nasional,” jelas dia.
Setelah lulus SMA, Giska pergi ke Kota Malang untuk melanjutkan pendidikannya. Selama kuliah, ia mengikuti paduan suara kampus. Di sana, ia juga mengikuti kompetisi paduan suara. Terakhir, tahun 2015 menang juara I dan II tingkat tingkat dewasa di Macau, China.
“Namun, akhirnya berhenti. Sebab, selesai lomba saya fokus membangun sebuah bisnis,” lanjut sulung dari empat bersaudara ini.
Saat itu, ia membangun bisnis seblak di Kota Malang yang mampu membuka lima outlet. “Setelah berjalan selama tiga tahun, akhirnya saya jual ke orang lain. Karena saya fokus bisnis yang lain,” beber dia.
Saat ini, ia sedang membangun bisnis di bidang internet marketing. Dia bertindak sebagai makelar yang menjembatani antara konsumen dengan supplier untuk mendapatkan sebuah barang.
“Bisnis ini tidak menggunakan modal banyak, bagaimana cara kita menarik klien,” terang perempuan yang mengidolakan Merry Riana ini.
Bahkan, ke depan, Giska juga sedang membuat project besar untuk menunjang salah satu hobinya. “Saya ingin menjadi konten kreator soal bisnis, agar memberikan inspirasi bagi orang lain,” kata Giska.
Namun, perjalanan panjang itu membutuhkan perjuangan. Sebab, Giska mengaku, sempat tidak menerima kondisinya yang menyandang low vision. “Baru sekitar satu tahun ini saya bisa menerima. Sebab, ada banyak teman dan komunitas. Serta, banyak ngobrol dengan psikolog,” lanjut Giska.
Selain itu, ia juga mulai berdamai dengan diri sendiri lantaran ingin terus berkarya dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Kalau kita nggak menerima kondisi diri sendiri, akan semakin menyulitkan kita. Orang akan lebih respect juga sama kita,” pungkas penyuka makanan pedas ini.(Amanda Egatya/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Amanda



Loading...