Malang Post - Iran Batalkan Salat Jumat demi Cegah Penyebaran Covid-19

Rabu, 08 April 2020

  Mengikuti :


Iran Batalkan Salat Jumat demi Cegah Penyebaran Covid-19

Jumat, 28 Feb 2020

TEHERAN – Pihak berwenang Iran membatalkan salat Jumat di beberapa kota termasuk ibu kota Teheran demi mencegah penyebaran virus korona atau Covid-19. Iran melaporkan pada Kamis 27 Februari jumlah kematian akibat virus korona meningkat menjadi 26, jumlah kematian tertinggi di luar China, dan jumlah total orang yang terinfeksi sekarang mencapai 245, termasuk beberapa pejabat senior.

Mereka yang terinfeksi termasuk Masoumeh Ebtekar, wakil presiden untuk urusan wanita dan keluarga, dan Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi.

"Dalam 24 jam terakhir, kami telah memiliki 106 (baru) kasus yang dikonfirmasi. Jumlah korban tewas telah mencapai 26," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kianush Jahanpur mengatakan kepada TV pemerintah, menyerukan kepada warga Iran untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu.

Jahanpur mengatakan ada rencana untuk memberlakukan beberapa pembatasan di tempat-tempat suci dan membatalkan beberapa salat Jumat, hari tradisional doa publik Republik Islam.

"Tapi itu perlu persetujuan presiden sebelum dilaksanakan," katanya mengutip Reuters, Jumat (28/2/2020), seraya menambahkan bahwa ratusan orang yang dicurigai terinfeksi oleh virus telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit.

Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar didiagnosis positif mengidap virus korona atau Covid-19. Ia menjadi salah satu orang yang terjangkit di tengah perjuangan Iran menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Mengutip dari Independent, Jumat (28/2/2020), Masoumeh Ebtekar adalah satu di antara 254 orang yang terinfeksi virus korona di negara Timur Tengah. Di mana 26 orang lainnya telah meninggal dunia.

Masoumeh Ebtekar yang merupakan wakil presiden untuk urusan wanita dan keluarga lebih dikenal secara internasional sebagai juru bicara berbahasa Inggris bagi para penyandera yang merebut Kedutaan Amerika Serikat di Kota Teheran, Iran, pada 1979. Peristiwa itu memicu krisis diplomatik selama 444 hari.

Sementara pada awal pekan ini Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi juga dinyatakan positif terkena virus korona. Ia dinyatakan terjangkit setelah beberapa jam tampak tidak sehat dalam sesi konferensi pers.

Kasus-kasus virus korona atau Covid-19 di Iran meningkat 106 dalam 24 jam terakhir. Kementerian Kesehatan Iran mengumumkannya pada Kamis 27 Februari 2020.

Dilaporkan, korban meninggal di Iran akibat virus korona lebih tinggi dibanding negara mana pun, kecuali China yang menjadi tempat epidemi dimulai. (oke/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Net

  Berita Lainnya





Loading...