Malang Post - Hiii Seram... Jelangkung dan Jenglot Gentayangan di Museum Ganesya

Kamis, 09 April 2020

  Mengikuti :


Hiii Seram... Jelangkung dan Jenglot Gentayangan di Museum Ganesya

Minggu, 15 Des 2019

MALANG - Ingin merasakan suasana mistis yang sebenarnya, ditambah melihat alat-alat perdukunan sesungguhnya. Coba lirik Museum Ganesya di area Hawai Waterpark, Perumahan Graha Kencana, Kota Malang.
Di penghujung tahun 2019 ini, nuansa seram dihadirkan di lantai dua museum tersebut. Doea Sisi, nama wahana baru itu benar-benar cukup menyeramkan. Masuk ke lantai dua museum milik Hawai Group ini, Anda akan disambut jelangkung persis di depan lift. Bau dupa yang dibakar di depan Jelangkung cukup menyengat. Di sebelahnya lagi, terdapat ular di dalam kaca dan dua burung gagak hidup. Lalu coba lihat ke tangga di atasnya. Sundari, kuntilanak  yang ada dalam tokoh Srimulat terlihat berdiri melihat pengunjung.
Setelah itu, berpaling ke bagian tengah bangunan lantai dua. Di sana, terdapat berbagai jenglot yang ditampilkan. Seperti Jenglot Kapiworo, Jenglot Betara Karang, Jenglot Berdiri hingga Nyai Blorong. Jenglot adalah sosok mistis yang berbentuk manusia yang memfosil ratusan hingga ribuan tahun. Secara medis, jenglot didefinisikan bayi yang digugurkan dan dibuang oleh orang tuanya. Kemudian jasad bayi ditemukan oleh oknum dan dibuat mistis dengan diberi rambut dan kuku yang panjang. Di museum ini, ada pula berbagai boneka yang menjadi media santet berwajah polos. Sering disebut dengan nama Voodo, boneka yang terbuat dari karung goni atau kain perca, dan dibentuk serupa dengan orang yang akan disantetnya.
Tidak hanya di situ, dalam wahana temporary exhibiton tersebut, terdapat pula bentuk makam-makam model Katolik, Islam, Model Peranakan dan sebagainya. Lebih lengkap lagi di ruang lain, puluhan koleksi jimat juga bermunculan. Mulai dari fosil, pring pethuk, kolbuntet, keong dan jenis-jenis lainnya. Semuanya jimat untuk pesugihan, sikep hingga tolak bala.
Diorama tuyul dan babi ngepet juga ditampilkan di sana. Operational Manager Museum Ganesya, Satya Budi Putera Suharli mengatakan wahana Doea Sisi ini memperkenalkan kehidupan lain di luar kehidupan sehari-hari. “Sisi baik dan sisi buruk. Sisi baik sudah ada di masyarakat. Sisi buruk harus dijelaskan juga seperti tentang alat-alat perdukunan yang sudah menjadi legenda,” katanya. (mar/adv)

Editor : Redaksi
Penulis : Marga

  Berita Lainnya





Loading...