Guru Besar UB Kenalkan Minyak Atsiri Sebagai Obat Nasional | Malang Post

Kamis, 05 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 03 Des 2019, dibaca : 435 , Rosida, Linda

MALANG – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua guru besar dalam bidang Ilmu Manajemen Lingkungan dan Pariwisata, Luchman Hakim, S.Si.,M.Agr.,Sc.,Ph.D dan bidang Ilmu Kimia Organik, Dr. Drs. Waskito, MS, Rabu (4/12).
Potensi Minyak Atsiri sebagai Bahan Baku Obat dan Sintesis Obat untuk Mendukung Program Kemandirian Obat Nasional menjadi topik penelitian yang diambil oleh Dr. Drs. Waskito, MS. Berada dalam masa bonus demografi membawa Indonesia pada perubahan pengaruh pola makan, seringnya mengkonsumsi makanan tinggi lemak dibanding sayur dan buah sehingga berakibat pada meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung, stroke, gagal ginjal.
Untuk itu, jumlah penderita penyakit degeneratif yang kian meningkat menuntut pemerintah untuk menyediakan obat secara memadai, kualitas dan kuantitasnya. Namun kebutuhan tersebut belum bisa sepenuhnya diakomodir oleh pemerintah dikarenakan beberapa hal, seperti belum mampunya industri kimia untuk menyediakan bahan baku obat, pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas serta belum mendukungnya teknologi Sintesis dan pemurnian obat.
“Minyak atsiri sebagai zat alami yang diekstrak dari tanaman aromatik memiliki efek biologis, juga mampu meningkatan keseimbangan lipid, fungsi hati, fungsi endotel untuk menurunkan tekanan darah, stres oksidatif dan thrombosis,” ujar Waskito
Fungsi lain minyak Atsiri adalah untuk meningkatkan relaksasi vaskular dan menghambat perkembangan diabetes. Bahkan juga memiliki kandungan senyawa mayor dengan struktur kimia unik dengan lebih dari satu pusat reaksi (gugus fungsional) yang dapat direkayasa menjadi berbagai senyawa turunannya yang berkasiat obat.
Atsiri merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang secara konvesional dapat diperoleh dengan cara hidrodistilasi atau distilasi uap, atau disebut dengan essential oil. Minyak ini banyak ditemukan pada produk sehari-hari, seperti pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci, pembersih lantai, pengharum baju, bumbu masakan hingga es krim. Minyak ini juga digunakan untuk obat tradsional dan berkhasiat seperti antiseptik, anti mikroba, anti inflamasi hingga antipiretik.
“Indonesia dikenal sebagai biodiversitas minyak atsiri dunia, sehingga untuk meningkatkan nilai tambah perlu diperluas pemanfaatannya baik sebagai bahan baku ataupun komponen tunggal bahan sintetis obat baru berbasis komponen mayor minyak atsiri dengan proses modern yang efektif dan efisien,” terangnya.
Sementara itu dari bidang Ilmu Manajemen Lingkungan dan Pariwisata, Luchman Hakim, S.Si.,M.Agr.,Sc.,Ph.D, mengangkat tema Penguatan Aspek Lingkungan Dalam Industri Wisata Alam Di Indonesia Yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan. Semakin meningkatnya kebutuhan mengunjungi area alamiah, pemerintah Indonesia selayaknya mendorong pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistem, untuk mewujudkan destinasi wisata alam yang berdaya saing serta berkelanjutan.
“Dukungan pendanaan, penguasaan sains dan teknologi bidang hayati, diperkirakan di tahun-tahun selanjutnya penemuan baru spesies akan terus berlanjut dan menambah jumlah keanekaragaman hayati Indonesia,” ujar Luchman. (lin/oci)



Kamis, 05 Des 2019

Ilmu Lebih Penting Dari Gaji

Loading...