Fenomena Prostitusi Online dan Upaya Pencegahan | Malang Post

Senin, 20 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 03 Nov 2019,

PROSTITUSI online di Malang Raya nyaris terlupakan dari sorotan. Penangkapan
finalis Putri Pariwisata, PA, di Kota Batu,  Jumat (25/10) karena terjerat prostitusi online membuka mata berbagai kalangan. Situasi di Malang Raya bagai nyaman bagi bisnis terlarang itu. Diskusi rutin Malang Post, Jumat (1/11) lalu mengulasnya dan mengingatkan persoalan serius fenomena sosial ini.
Sosiolog Dr Rinekso Kartono MSi membeber dua spektrum prostitusi online sesuai hasil penelitiannya. Pertama, pelaku prostitusi konvensional asal lokalisasi yang ditutup. Mereka beralih ke platform online untuk menjalankan bisnis plus-plus.
“Kedua, saya istilahkan pseudo prostitute. Mereka yang menganggap prostitusi sebagai pekerjaan sambilan,” beber Rinekso. Pseudo prostitute melibatkan wanita dari berbagai latar belakang. Siswi SMA, mahasiswi, bahkan ibu-ibu muda. Wanita yang terjerumus dalam praktik ini umumnya mencari uang sekejap. Entah untuk kebutuhan kuliah, fun atau mengikuti gaya hidup hedonis.
Dekan FISIP UMM ini membeber, dunia prostitusi berkembang karena sejumlah faktor. Salah satunya media sosial. “Dulu, orang malu kalau mau iseng main ke lokalisasi. Tapi, dengan online, privasi terjaga. Mereka yang dulu malu-malu, tidak takut lagi ketahuan. Karena transaksinya tidak harus bertemu di lokalisasi, privilege terjaga,” beber Rinekso dalam diskusi rutin Malang Post.
Diskusi yang dipimpin Pemred Malang Post Dewi Yuhana ini menghadirkan berbagai sudut pandang. Di antaranya kalangan akademisi. Selain Rinekso, pakar studi wanita Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Keppi Sukesi MS, Kepala Program Studi Pariwisata UB Dr Sunarti MAB serta pakar ilmu komunikasi dan sosial media UMM Sugeng Winarno S.Sos MA.
Praktisi perhotelan Iskandar Sjachran dari PHRI Kota Malang, serta Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Makota, Iptu Tri Nawang Sari juga terlibat aktif dalam diskusi yang digelar di Graha Malang Post ini.
Prostitusi online ramai dibicarakan di Malang, sebenarnya bukan fenomena baru. “Malang dulu gudangnya prostitusi,” beber Rinekso. Ia kemudian  membuka kembali penelitian dan mengingatkan fenomena dunia prostitusi di Malang pada era tahun 1990-an. Bahkan sudah ramai sejak tahun 1980-an. Kala itu, di sekitar Jalan Majapahit (sekitar Splindid) hingga di sekitar Kutobedah. Dua kawasan tersebut dulu merupakan kawasan prostitusi kelas teri.
Sedangkan kelas elite, salah satu contohnya terdapat di Jalan Bandung sekitar tahun 1990-an. Selain itu juga tak jauh dari Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang. Praktik prostitusi seperti phone sex pun pernah berkembang. Jadi kini prostitusi online di Malang seperti transformasi saja dari kondisi sebelumnya. Atau medium perantaranya yang berubah.
Pemaparan Rinekso tersebut menjawab ulasan Hana, sapaan akrab Dewi Yuhana. Di awal diskusi, ia mengatakan  pengungkapan kasus prostitusi online di Kota Batu seolah-olah menjadi petunjuk bahwa Malang Raya dianggap aman untuk transaksi terlarang itu.
“Dari penelusuran kami juga, banyak akun media sosial dengan tagar lokasi di Malang, yang menjanjikan jasa prostitusi,” ungkap  Hana. Karena itulah menurut dia, perlu ada upaya mencegah prostitusi online dengan berbagai cara. Sebab dampaknya merusak banyak sendi kehidupan sosial. Salah satu contohnya bahaya penularan HIV/AIDS.   
Menjawab Hana, Rinekso kemudian membeber hasil penelitiannya tentang penularan HIV/AIDS.  Berdasarkan data, wanita yang terinveksi HIV/AIDS ditinjau dari status atau latar belakang tertinggi di Jawa Timur, dan nomor dua  di Indonesia yakni ibu rumah tangga.
Data penelitian yang dihimpun Rinekso, jumlah terbanyak pengidap HIV di Jatim yakni
rumah tangga. Yakni sebanyak 14.721 orang. Urutan kedua penderita HIV adalah wanita tenaga non profesional atau karyawan, 14.316 orang. Di nomor tiga, wiraswasta dengan 13.610 orang.
Sementara, usia wanita penderita HIV  yakni usia 20-29 tahun sebanyak 35,3 persen, 30-39 tahun sejumlah 34,9 persen. Sedangkan sisanya tersebar di berbagai usia. Data ibu rumah tangga, yang terpapar HIV/AIDS menimbulkan dua spekulasi. Yaitu entah mereka bagian dari pseudo prostitute, atau karena korban suami  jajan seks melalui jasa prostitusi online.
Data lain Rinekso menunjukkan bekas prostitusi konvensional, kini banyak terpapar ke rumah musik dan freelance. Ada pula, yang menyamar menjadi mahasiswi, janda muda atau ibu rumah tangga. Menurut dia, inilah kondisi terbaru dunia prostitusi online. Tak ada batas yang jelas antara pelaku prostitusi profesional dan prostitusi sambilan.
Kondisi tersebut tak bisa biarkan. Peran keluarga sangat penting untuk mencegahnya, terutama generasi muda.  “Terutama, mereka yang masih remaja awal, anak-anak SMA atau kuliah awal, literasi untuk keluarga sangat penting. Supaya bisa mengontrol kondisi buah hatinya, di mana pun itu, jangan terlalu percaya agar tidak sampai kebobolan,” pesannya.  
Sementara  Prof Dr Ir Keppi Sukesi MS mengatakan, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja seks komersial awalnya terjerat persoalan keluarga. Ada yang berasal dari keluarga broken, ada pula karena kemiskinan. Namun, variabel baru masa kini, adalah dampak negatif gaya hidup hedonis dan materialistis.
“Mulai dari tertipu oknum untuk jadi TKW tapi ternyata dilacurkan di luar negeri. Berbagai motif, tapi ujungnya adalah tak bisa keluar dari dunia hitam, karena tak bisa kerja lain, dan sudah terlanjur jadi pohon emas keluarga,” papar Keppi.
Kasus prostitusi online, Keppi menyebut solusinya akan kembali kepada teknologi itu sendiri. Jika prostitusi online lahir karena teknologi, maka mengatasi prostitusi online juga akan lewat teknologi. Hal ini diulas Malang Post pada edisi besok. (fin/van/bersambung)

Editor : vandri
Penulis : fino






LOWONGAN KERJA

Loker

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...