Malang Post - Dijuluki Warok, Setiap Tampil Selalu Selipkan Pesan Kamtibmas

Minggu, 29 Maret 2020

  Mengikuti :


Dijuluki Warok, Setiap Tampil Selalu Selipkan Pesan Kamtibmas

Kamis, 06 Feb 2020

Aiptu Ruswanto pemain kesenian reog Ponorogo tetap profesional dalam menjaga keamanan di wilayahnya bertugas


Aiptu Ruswanto, Polisi Sekaligus Seniman Panggung
Kecintaannya terhadap seni, Polisi satu ini rela disebut Warok. Tapi demikian, bukan warok yang membuat onar, tapi warok yang tidak segan membela kebenaran. Ya itulah Aiptu Ruswanto. Anggota Polsek Poncokusumo ini, dikenal warga bukan sebagai anggota polisi. Melainkan warok yang selalu menjaga keamanan. 
“Heheheh, ya begitulah. Banyak warga yang kenal saya sebagai warok, karena di kelompok kesenian saya selalu menjadi Warok yang cinta damai dan selalu menjaga kondusifitas wilayah,’’ kata Ruswanto. 
Pria yang menjabat sebagai Kasi Humas Polsek Poncokusumo ini mengaku dikenal warga sebagai Warok yang menjaga keamanan. Lantaran dalam setiap penampilannya sebagai warok. Itu dia lakoni bersama kelompok keseniannya yaitu Reog Ponorogo, Kusumo Budoyo. Setiap tampil Ruswanto selalu menyelipkan pesan-pesan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). 
“Dalam kesenian itu kami bebas berekspresi, tapi saya sendiri tidak lupa jati diri. Sebagai anggota polisi, saya juga memiliki kewajiban untuk menjaga Kamtibmas. Itu sebabnya, di sela-sela saya tampil, saya selalu menyelipkan pesan-pesan Kamtibmas,’’ urai Ruswanto. 
Pesan itu disampaikan dengan kemasan drama dagelan yang lucu, sehingga warga pun dapat memahami.  Salah satunya, adalah saat dia memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak meminum-minuman keras, karena bisa mabuk dan berbuat kriminal. 
Dia pun mengemasnya pesannya dengan sejumlah pemain warok yang memainkan drama. Ada yang membeli minuman keras, kemudian diminum. Selanjutnya warok tersebut mabuk, dan kemudian melakukan tindakan criminal dengan mencuri. Aksinya itu diketahui warga, yang kemudian memberikan bogem mentah. 
“Dalam drama itu tidak hanya ditampilkan adegan pencuri dimassa, tapi juga berurusan dengan pihak yang berwajib,’’ kata Ruswanto sembari tersenyum. 
Pesan Kamtibmas lain yang kerap disampaikan Ruswanto dalam penampilannya, adalah terkait dengan penipuan dengan modus pesan mendapatkan hadiah. Di drama warok ini, seorang warok akan menunjukkan ekspresi bahagia saat mendapat pesan dengan memberitahukan dapat hadiah. Tapi tenyata itu hanya penipuan. 
“Ya banyak, kadang kami menyampaikan pesan agar warga selalu mematikan listrik saat bepergian atau mencabut regulator dari tabung gas untuk mengantisipasi kebakaran, atau lainnya,’’ tegasnya. Dan tidak semua pesan Kamtibmas itu disampaikan melalui adegan drama, tapi juga ada yang hanya kata-kata. Peraih penghargaan juara I, Quick Respons Polres Malang tahun 2014 lalu ini menceritakan, jika mencintai seni sejak dirinya masih kecil. Darah seni mengalir dari keluarganya. Terutama kakeknya, merupakan penabuh gambang. Sedangkan sang ibu yaitu Sarminah adalah penari Bondan. 
“Dulu waktu saya kecil, sering diajak ibu saat beliau menari Bondan. Saya suka, kemudian waktu SMP saya ikut kelompok kesenian reog Ponorogo,’’ kata pria asal Nganjuk ini. 
Dia mengaku, masuk kelompok kesenian mulai tahun 1979. Di kelompok kesenian itu, pria kelahiran 24 September 1965 ini mengasah diri, dengan belajar seni. Dia pun mengaku senang, karena melalui kelompok kesenian itu dirinya dapat berekspresi. 
“Dalam satu penampilan memang ada sesinya, ada gerakan pakem yang ditampilkan. Tapi saya menikmatinya, karena di sinilah saya bisa berekspresi,’’ tambahnya. 
Hingga dia SMA, jiwa seni yang dimilikinya semakin kental. Hampir setiap ada kelompok seninya ada undangan tampil, Siswanto selalu ikut. Dia pun semakin menjiwai. 
“Waktu itu selain bisa berekspresi, saya ingin mengembangkan dan melestarikan kesenian itu sendiri. Terutama kesenian warok. Waktu itu saya tidak ingin kesenian warok hilang digantikan dengan budaya-budaya lain,’’ ungkapnya. 
Meskipun sudah aktif tampil, Babinkamtibmas Desa Ngadas ini tidak lupa untuk belajar. Dan terbukti, meskipun tampil hampir setiap hari, dia tetap mendapatkan nilai yang memuaskan. Hal ini juga yang membuat kedua orang tuanya mendukung dan memberikan support. 
Hingga kemudian tahun 1988, Ruswanto yang lulus SMA memutuskan untuk menjadi polisi. Beberapa keluarganya khawatir, jika Ruswanto masuk polisi, maka dia tidak bisa lagi berkesenian. Namun demikian, Ruswanto berjanji  akan tetap mendalami seni. Bahkan dia bercita-cita, akan mudah mengajak warga menjaga keamanan melalui kesenian. 
“Saya tes, kemudian lolos,’’ katanya. 
Tapi demikian, Ruswanto mengaku sempat stress, saat dia menempuh pendidikan. Di mana selama sembilan bulan, dia harus vakum dari dunia seni.  Tapi demikian, rasa tertekan itu, dapat dilalui ayah dari Hamida Hanif Wahyuni Jati ini dengan baik. Hingga kemudian dia ditempatkan di Polres Malang, dia ditempatkan di unit Sabhara. 
Saat itulah, ayah dari Prakasa Adidaya Rahmawan ini memiliki kesempatan untuk berkecimpung di dunia kesenian lagi. Di sela-sela tugas patrol, dia mencari grup-grup kesenian, dan kemudian ikut. Mulai dari kesenian Bantengan, Kuda lumping hingga kesenian reog. Dan Ruswanto sangat menikmati itu.
Hingga akhirnya, tahun 2014 lalu, Ruswanto mendirikan kelompok seni Kusumo Budoyo. Sejak lahir sampai dengan saat ini, kelompok seni yang didirkannya kerap diundang untuk tampil dan menghibur masyarakat. 
“Alhamdulillah, masih banyak warga yang mencintai dan menghargai seni,’’ ungkapnya. 
Ditanya sampai kapan dia akan terjun di dunia seni? Ruswanto tersenyum, selanjutnya mengatakan sampai nanti. Ruswanto juga mengatakan saat ini kelompok seninya memiliki kru 60 orang. Semua kru aktif, dan siap tampil kapan saja. Termasuk dirinya. 
“Tapi yang jelas, meskipun saya aktif di dunia kesenian, tidak pernah lupa dengan tugas pokok sebagai polisi. Jika bertugas, saya tidak main-main. Termasuk datang ke TKP, sejauh apapun TKP nya akan saya datangi,’’ tandasnya.(Ira Ravika/ary)

Editor : bagus
Penulis : ira

  Berita Lainnya





Loading...