Diduga Petirtaan Peninggalan Kanjuruhan | Malang Post

Jumat, 24 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 19 Okt 2019,

SEBUAH sumber air kawasan persawahaan di sekitar Kali Metro, Merjosari, Kota Malang diduga petirtaan kuno. Kawasan ini, disinyalir bagian dari peninggalan Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke 8 Masehi.
“Kami sudah pernah datang ke sini, dulu bersama arkeolog dari BPCB Trowulan untuk penelitian. Diduga kuat, kawasan ini  petirtaan kuno, peninggalan kerajaan Kanjuruhan,” beber Hariyoto, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
Dari hasil penyelidikan arkeolog BPCB Trowulan, kawasan tersebut sangat mirip dengan petirtaan Ngawonggo, Nanasan, Kecamatan Tajinan. Petirtaan Ngawonggo ditemukan dan memiliki tinggalan sejarah lebih lengkap. Sehingga, arkeolog bisa mendeteksi dengan lebih jelas.
Model petirtaan pada era Hindu, menurut Hariyoto, acapkali digunakan sebagai tempat untuk bertapa dan bersemedi. Hariyoto menambahkan, bukan tidak mungkin, petirtaan seperti ini, digunakan sebagai sarana spiritual untuk menempa diri dan mental, sebelum ada peristiwa penting, seperti peperangan atau upacara keagamaan.
Sementara, catatan sejarah soal Kerajaan Kanjuruhan, maupun peninggalannya di kawasan Dinoyo, terhitung tidak utuh. Selain area diduga petirtaan ini, petugas BPCB Trowulan hanya menemukan beberapa umpak, berbagai ukuran. Namun, satu umpak besar, terdapat di dekat area diduga petirtaan.
Batu besar diduga umpak ini, memiliki satu cekungan seukuran kepalan tangan.  “Umpak menguatkan dugaan bahwa ini dulunya petirtaan. Kami, sudah melakukan penyelidikan, dan mengirimkan rekomendasi kepada Pemkot Malang untuk segera menjadikan kawasan ini cagar budaya,” sambung Jayadi, petugas BPCB Trowulan.
Menurut pria yang juga petugas Candi Badut tersebut, perlu ada kajian pelengkap demi menetapkan status kawasan ini sebagai cagar budaya. Posisi kawasan ini, menyiratkan hubungan dengan Kanjuruhan.
“Perlu ada tindak lanjut dari Pemkot Malang, serta para arkeolog Malang, supaya tak lagi menduga-duga lokasi ini apakah petirtaan atau bukan. Tapi, kami berharap dengan upaya kami ini, kawasan ini jangan sampai tercemar, dan tetap asli seperti ini,” sambung Jayadi.
Sementara itu, Robiyan, Panglima Baranusa Kota Batu, sekaligus pegiat budaya, yang ikut dalam kunjungan ke situs diduga petirtaan Kerajaan Kanjuruhan, menduga kawasan tersebut memiliki kandungan air yang murni.
Meskipun masih akan membawa sampel air untuk dites ke laboratorium, Robiyan mengaku sudah mencicipi air di petirtaan ini. “Mengandung banyak oksigen, tapi masih perlu dites lagi,” tuturnya. (fin/van)

Editor : vandri
Penulis : fino






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...