Malang Post - Dadang Rukmana, Pelukis Spesialis Acrilyc Aliran Realis

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Dadang Rukmana, Pelukis Spesialis Acrilyc Aliran Realis

Minggu, 23 Feb 2020

Lukisan Akhir Senyum Sang Jenderal Laku Rp 150 Juta


Menjadi pelukis tidak hanya dibutuhkan kesabaran, tapi juga ketelatenan. Selain itu, pelukis harus terus belajar dan belajar, untuk menghasilkan karya terbaik. Hal inilah yang disampaikan Dadang Rukmana. Pelukis asal Malang ini tidak hanya di kenal di Malang, tapi karyanya juga dikenal di Indonesia. Bahkan, Dadang pernah dua kali ikut pameran di luar negeri, yakni di Beijing, China, dan Singapura. Dia adalah pelukis dengan spesialis acrilyc, dengan aliran realis.
“Alhamdulillah, semuanya saya syukuri. Saya senang, banyak warga atau kolektor yang mau menerima karya saya,’’ katanya.


Dadang menceritakan, bakat melukis dimilikinya sejak kecil. Berawal dari buku cerita cartoon, yaitu Mickey Mouse. Saat itu buku yang tidak ada sampul pemberian dari tetangganya ini terus dibolak-balik untuk dibaca. Dari seringnya membolak-balik buku tersebut, Dadang kemudian mencoba melukis gambar yang ada dibuku.  
“Dulu ada bapak bekerja sebagai jukir, memberikan sisa kupon parkir kepada saya. Dari situ kemudian saya belajar,’’ ungkap pria kelahiran 10 Oktober 1964 ini.


Dia yang masih duduk di sekolah dasar sangat suka dengan kegiatan tersebut. Bahkan saat usianya 17 tahun, Dadang menjadi juara saat lomba Poster. Sampai kemudian, di usia 18 tahun,  Dadang belajar melukis di Studio Pendidikan Seni Rupa Rangga Gempol Bandung. Di bawah asuhan Barli Sasmitawinata, dia belajar hingga tahun 1985.


Meskipun belum lulus, Dadang memilih keluar dari studio tersebut. Dan memilih berkarir di Ubud Bali. “Ada teman yang mengatakan jika di Ubud, peluang pelukis berkarya sangat besar. Saya tertarik itu. Saya percaya, karena saat itu di Bali banyak sekali gallery besar,’’ ungkapnya.
Namun demikian, tidak sesuai bayangannya. Enam bulan di Bali, karya Dadang tidak satu pun terjual. Hingga akhirnya dia memilih ke Bandung. Di Bandung, Dadang sempat tidak lagi memegang lukisan, karena dia bekerja. Harapannya, hasil kerjanya dapat membeli bahan-bahan lukis, dan bisa membiayai dirinya, kelak saat melukis lagi.


Tahun 1986, Dadang kembali ke Ubud, dan berkarya disana. Tahap ke dua inilah, memberikan angina segar bagi Dadang. Karena saat itu lukisannya dibeli oleh pemilik Bamboo Galery. “Bamboo itu merupakan barometernya gallery yang ada di Bali. Jadi begitu lukisan kami dibeli oleh Bamboo Galery, maka peluang laku di gallery-galery lain pun sangat besar,’’ ungkapnya.


Begitu lukisan laku, saat itu juga bapak dua anak ini memilih melukis sebagai pekerjaannya. Dan dia pun menekuni serta mencintai pekerjaan tersebut. Dadang sendiri awalnya tidak hanya menggunakan satu metode atau satu aliran saja. Tapi dia mencoba beberapa metode untuk melukis. Dia pernah melukis dengan cat minyak, cat air, dan saat ini acrylic. Alirannya yang tekuni pun beragam. Meskipun saat ini dia lebih cenderung menekuni aliran realis dengan lukisan by design. “By design itu kami buat desainnya dulu. Kemudian melukis di kanvas. Untuk sketsanya menggunakan proyektor. Kenapa demikian, untuk pewarnaan yang pas dan hasil yang sempurna,’’ katanya.


Setelah sekian tahun berkarya, Dadang kemudian membuat pameran tunggal. Tahun 1992 dia menggelar pameran di salah satu Galery di Jakarta. Dia pun puas, karena saat pameran banyak karyanya yang dibeli oleh kolektor. Dari situ dia semakin yakin, bahwa dengan melukis, dia bisa hidup, dan menghidupi keluarganya.


Setelah 1992, pameran kedua digelar Dadang tahun 2009, di Galery Canna Jakarta. Di pameran tunggal kedua ini, lukisannya pun banyak dibeli oleh kolektor. Tidak puas, tahun 2010 dia kembali menggelar pameran di Galeri Nadi. Di pameran ke tiga inilah, lukisannya laku dengan harga mahal. “Salah satu lukisan saya waktu pameran dibeli Rp 90 juta. Kemudian ada kolektor setelah pameran itu membeli lukisan saya dengan harga Rp 150 juta,’’ tuturnya.


Dia mengatakan, jika harga lukisan itu paling mahal yang dilukisnya. Lukisan mahal itu awalnya berjudul Akhir Senyum Sang Jenderal. Namun kemudian sang kolektor meminta judul diubah menjadi Reformasi. “Tahun 2015 kami menggelar pameran tunggal lagi, di Galery Semarang. Ada sekitar 15 lukisan yang kami pamerkan saat itu,’’ kata Dadang.
Selain pameran tunggal, dia juga menggelar pameran bersama-sama pelukis lainnya. Jika pameran bersama, dia menyetorkan 4-7 lukisan.


Sampai sekarang, Dadang masih aktif melukis. Dia mempertahankan goresan warna acrylic di canvas. Harga lukisannya pun cukup fantastis, yaitu Rp 25 juta sampai dengan Rp 50 juta. “Kalau dulu jual lukisan, kita bawa fisiknya ke gal;ery-galery. Tapi sekarang zamannya sudah berubah. Sekarang bisa pakai foto, sudah kita tawarkan. Dan lukisan saya banyak dibeli oleh gallery-galery, baik di Jakarta, Yogyakarta, Bali juga Malang,’’ tambahnya.


Lalu sampai kapan akan melukis? Dadang mengatakan sampai nanti. Menurut Dadang dia tidak pernah bosan untuk membuat lukisan. Dan dia juga terus belajar mengenali teknik-teknik atau metode melukis. (ira/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Ira Ravika

  Berita Lainnya





Loading...