Malang Post - Cara Bersuci Tatkala Kondisi Banjir

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Cara Bersuci Tatkala Kondisi Banjir

Jumat, 10 Jan 2020

Banjir merupakan salah satu musibah yang cukup mengganggu keberlangsungan aktivitas keseharian masyarakat. Tak heran jika banjir ini sampai menyebabkan kerugian yang cukup besar, bahkan sampai memakan korban jiwa.
Penggolongan bencana banjir dalam kategori musibah selaras dengan arti kata musibah yang diungkapkan oleh Syekh Ismail Haqqy dalam kitabnya, Tafsir Ruh al-Bayan: “Apa saja yang menimpa manusia, berupa sesuatu yang tidak menyenangkan” (Syekh Ismail Haqqy, Tafsir Ruh al-Bayan, juz 1, hal. 260).
Pengertian musibah di atas, sejatinya diambil dari salah satu hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Ikrimah: Ikrimah meriwayatkan bahwa pada suatu malam lampu Rasulullah SAW pernah mati, lalu beliau membaca “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn”. Lantas para sahabat bertanya, “Apakah ini termasuk musibah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iya, apa saja yang menyakiti (menyusahkan) orang mukmin disebut musibah” (HR Ahmad).
Meski dalam kondisi banjir, hendaknya seseorang tidak sampai melupakan kewajiban-kewajiban kesehariannya selaku umat Islam, misalnya ibadah salat yang wajib dilakukan lima kali dalam sehari. Lantas sebenarnya bagaimana cara bersuci bagi korban banjir? Mengingat sebelum melaksanakan salat tentu perlu bagi mereka untuk bersuci, baik dari hadats kecil, yakni dengan wudhu; dan dari hadats besar, yakni dengan mandi besar.
Terkait hal ini, para korban banjir hendaknya tetap berupaya mencari air yang bersih dan jernih di sekelilingnya jika masih memungkinkan, misalnya dari keran yang berfungsi, bantuan air PDAM, dan sumber-sumber air lain yang layak untuk dibuat bersuci.
Meski begitu, tetap boleh bagi para korban banjir berwudhu dengan air banjir yang keruh sebab terkena tanah dan debu, selama air yang digunakan untuk bersuci tidak ditemukan komponen najis atau komponen selain tanah dan debu (mukholith) yang sampai mengubah warna, rasa, atau bau dari air. Sebab perubahan air karena faktor tercampur tanah atau debu tidak sampai mencegah kemutlakan nama air.
Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab al-Muqaddimah al-Hadramiyah: “Perubahan air sebab diamnya air (dalam waktu lama), sebab debu, lumut, dan sebab sesuatu yang menetap dalam tempat menetapnya air dan tempat berjalannya air merupakan hal yang tidak dipermasalahkan”
Alasan tetap diperbolehkannya bersuci dengan menggunakan air banjir yang keruh adalah untuk mempermudah masyarakat dalam bersuci, sebab air keruh yang bercampur tanah dan debu merupakan hal yang sering kita temukan sehari-hari. Jika air demikian dihukumi tidak dapat digunakan untuk bersuci, tentu banyak masyarakat yang merasa terbebani dalam bersuci.
Selain itu, air yang tercampur debu sejatinya hanya sebatas memperkeruh warna air, tidak sampai mengubah nama air hingga memiliki nama tersendiri. Hal ini seperti disampaikan dalam kitab Fath al-Wahhab:
“Air tidak dikatakan berubah sebab bercampur debu atau bercampur garam air, meskipun keduanya (sengaja) dilemparkan pada air, (hukum demikian) bertujuan untuk memudahkan masyarakat dan karena debu hanya memperkeruh air dan garam air merupakan gumpalan yang berasal dari air yang tidak sampai mengubah kemutlakan nama air, meskipun perubahan dengan dua komponen ini secara bentuk menyerupai perubahan pada air yang banyak sebab benda-benda yang melebur (mukhalith)” (Syekh Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, juz 1, hal. 5)
Berbeda halnya jika seseorang yakin bahwa perubahan air banjir yang berada di sekitarnya lebih dominan karena faktor benda selain tanah yang mencampuri air (mukhalith), seperti sampah, najis dan benda lainnya, sehingga sampai mengubah terhadap bau, rasa dan warna air, maka air tersebut sudah tidak dapat digunakan untuk bersuci.
Berbeda jika seseorang masih ragu, apakah air banjir yang ada di sekitarnya perubahannya karena murni tercampur tanah atau lebih dominan karena tercampur benda yang lain, maka dalam kondisi demikian, air tetap berstatus suci dan menyucikan. Sebab hukum asal dari air adalah suci, dan kesucian tersebut tidak menjadi hilang hanya disebabkan suatu keraguan.
Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab Busyra al-Karim: “Keluar dari cakupan ‘yakin berubah’, yakni ketika seseorang masih ragu, apakah perubahan air disebabkan benda yang mencampuri air (mukhalith, larut) atau sebab benda yang menyandingi air (mujawir, tak larut), maka keraguan demikian tidak berpengaruh dalam kemutlakan air, sebab hukum asalnya adalah yakin atas kesucian air, maka keyakinan ini tidak hilang sebab adanya keraguan” (Syekh Said bin Muhammad Ba’aly, Busyra al-Kariem, hal. 74)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebaiknya dalam kondisi banjir seseorang tetap memprioritaskan mencari air yang bersih dan jernih dalam bersuci agar ia tidak terkena dampak-dampak negatif dari penggunaan air yang kotor. Namun meski begitu tetap diperbolehkan menggunakan air banjir yang keruh, selama perubahan dari air banjir bukan karena faktor selain tanah dan debu, seperti najis, sampah, limbah pabrik, dan benda lain yang dapat mencampuri air. Wallahu a’lam. (nuo/udi)

 

BAHTSUL MASAIL
Ada 200 Ayat Alquran Terkait Air, Apa Maksudnya?
Di dalam agama Islam air penting sebagai sarana ibadah. Air diperlukan untuk bersuci sebagai salah satu syarat sebelum menunaikan salat yang merupakan ibadah pokok dalam ajaran Islam.
Berwudu sebagai salah satu syarat sah salat dilakukan dengan cara membasahi atau mencuci bagian-bagian tertentu dari anggota badan dengan air bersih (suci dan menyucikan). Perintah berwudu dan mandi junub dengan menggunakan air bersih terdapat dalam Alquran surah al-Maidah ayat 5-6.
Allah SWT pernah mengazab umat-umat terdahulu yang ingkar dan melampaui batas dengan air sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi, antara lain umat Nabi Nuh, Fir’aun, kaum Saba’, dan umat-umat lainnya.
Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa air merupakan barang yang penting dan diperlukan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah dan bencana.
Terdapat lebih dari 200 ayat Alquran yang mengandung kata air atau hal yang berhubungan dengan air, seperti hujan, sungai, laut, awan, mata air dan lain-lain. Di antara ayat-ayat itu terdapat uraian tentang proses-proses air di alam dengan ringkas tetapi sangat jelas, misalnya proses terjadinya hujan dan daur air.
Allah berfirman dalam surah al-Hijr ayat 45, Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).
Keberadaan air di akhirat, peran dan pengaruhnya bagi manusia sangat tergantung pada amalan-amalan yang telah diperbuat terdahulu semasa masih di dunia.
Keberadaan air di mana-mana, termasuk di surga dan neraka, mengindikasikan bahwa air tidak pernah terpisah jauh dari kehidupan manusia. Bahkan pada kenyataan yang kita hadapi di dunia ini pun, air merupakan benda bermanfaat bagi manusia, acapkali menimbulkan masalah dan bencana.
Secara langsung dan tidak, manfaat dan persoalan yang berkaitan dengan air pada dasarnya akibat tindakan manusia. Sementara itu cara kita berperilaku sehubungan dengan air tampaknya lebih banyak diatur dalam hadis, misalnya, Permintaan seseorang yang tidak boleh ditolak, apabila persediaan cukup, adalah air, api, dan garam.
"Ayahku meminta izin kepada Rasulullah, kemudian ia masuk, mencium, dan duduk bersanding dengan beliau. Lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, permintaan apakah yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Air.”
Ia bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Garam.” Ia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang engkau lakukan adalah baik bagimu.” (Riwayat Abu Dawud dengan sanad daif dari seorang wanita yang biasa dipanggil Buhaisah)
Salah satu sedekah yang akan memberikan pahala yang mengalir adalah menggali sumur untuk umum. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, lalu sedekah apakah yang lebih utama (agar pahalanya sampai kepada roh beliau)?” Rasulullah menjawab, “Air.” Kemudian Sa‘d menggali sebuah sumur, ia berkata, “Sumur ini aku persembahkan untuk Ibu Sa’d” (Riwayat Abu Dawud dari Sa’d bin Ubadah)
Kedua hadis di atas menunjukkan bahwa air memiliki peran sosial yang penting. Hadis tentang perilaku terhadap air ini umumnya mengatur hubungan antarmanusia. (nuo/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : NUO

  Berita Lainnya





Loading...