Belajar dengan Mengajar, 20 Tahun Lulus Pendidikan Kedokteran | Malang POST

Sabtu, 22 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Belajar dengan Mengajar, 20 Tahun Lulus Pendidikan Kedokteran

Rabu, 04 Des 2019,

Syuna Salimdra sempat ditolak sejumlah sekolah dasar (SD) karena belum cukup usia untuk sekolah. Kala itu, ia baru berusia lima tahun. Tapi karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata, pilihannya Syuna harus disekolahkan.  Karena kecerdasannya, ia menuntaskan pendidikan kedokteran di usia 20 tahun.
========  

Hari-hari Syuna seperti biasa. Ia tak tampak kutu buku. Masih punya waktu untuk bersantai layaknya anak muda pada umumnya. Tapi di balik hari-hari biasanya, Syuna merampungkan studi kedokteran pada usia 20 tahun 4, pada Oktober 2019 lalu.
Ia  memiliki IQ yang mencapai angka 130. Sedang IQ rata-rata manusia pada umumnya hanya berkisar 90-100 saja. Hal itulah yang  memberikan pengaruh besar terhadap kemampuanya dalam proses kegiatan belajar mengajar yang ia terima.
“Setiap menempuh tingkatan sekolah selalu dites IQnya, dan hasilnya selalu berkisar pada angka 130. Makanya saya selalu direkomendasikan untuk masuk program akselerasi,” ungkap alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan tahun 2013 ini.
Untuk diketahui, pria ramah ini memulai studi kedokterannya  pada 14 tahun. Kemudian berhasil menyelesaikan masa kuliah hanya dalam kurun 3,5 tahun, lalu menuntaskan masa koas dalam waktu dua tahun. Jadi total masa studi kedokterannya diselesaikan dalam kurun waktu lima tahun, lima bulan.
"Saya menyelesaikan pendidikan kedokteran selama 3,5 tahun pada usia 17 tahun,  wisuda pada  tahun 2017. Lalu Oktober kemarin diambil sumpah dokter, setelah menyelesaikan koas selama dua tahun," jelas pria berkacamata ini.
Syuna yang juga menjadi asisten dosen semasa kuliah ini ternyata pernah ditetapkan sebagai peraih nilai tertinggi di angkatannya. Yakni pada ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan nilai mencapai 42,08.
OSCE harus ditempuh oleh setiap mahasiswa kedokteran. Karena merupakan bagian dari Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Syuna menyebut bahwa rahasianya untuk meraih nilai tertinggi dalam ujian tersebut adalah belajar dengan mengajar.
“Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajarkan bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang aktif di BEM semasa kuliah ini.
Kini keluarga besarnya merasa bangga. Sebab ia mampu menyelesaikan studi kedokteran pada usia yang masih sangat muda. Apalagi latar belakang keluarganya pun hampir semuanya bekerja sebagai pedagang.
“Hanya saya dan kakak saya saja yang kuliah. Kakak saya sekolah hukum dan sudah jadi hakim,” ungkapnya.
Bungsu dari dua bersaudara ini mengisahkan, latar belakang orang tuanya sebagai pedagang membutuhkan banyak waktu untuk berusaha. Sehingga ia harus dititipkan ke tempat penitipan anak sejak masih berusia tiga tahun. Namun hal tersebut tak membuat Syuna lantas bersedih atau berkecil hati.
“Dulu saya dititipkan di tempat penitipan anak. Di situ katanya saya sering main-main ke sekolah TK. Akhirnya banyak yang tanya, kenapa tidak disekolahkan sekalian. Karena pas kecil saya memang gendutan, jadi mungkin terlihat besar," kenang alumni SMAK Kanaan Banjarmasin ini.
Sewaktu kuliah, Syuna sempat mati-matian dalam membagi waktu, khususnya ketika koas. Karena waktu visit dokter yang memakan banyak waktu, dan juga bersamaan dengan kewajiban pembuatan laporan.
"Setiap harinya hampir 24 jam untuk mendampingi visit pasien, mengerjakan tugas, sampai jaga malam. Jadi selama dua tahun benar-benar harus ekstra kuat," ungkap dia.
Saat ini Syuna tengah menjadi tutor untuk adik tingkatnya di FK  UMM. Sembari menunggu masa internship kedokteran, yang akan ditempuh selama satu tahun. Setelah itu Syuna berniat menjadi anggota Polri. Yaini sebagai dokter polisi.
"Sekarang rencananya internship dulu, itu jadwalnya nasional. Kalau untuk lanjut studi saya masih belum kepikiran, rencananya lebih ke seleksi dokter polisi," kata dia. Apalagi  bagi dia, profesinya sebagai dokter akan digunakan  sebagai sarana pengabdian, bukan untuk meraih kekayaan. Maka dari itu, sejak menyelesaikan studi beberapa waktu lalu, ia bersama sejumlah rekannya memulai bisnis bidang kuliner.
“Karena kita nggak mungkin berharap kaya dari uang pasien, ya jadi kita mulai usaha. Tapi tetap nanti persiapan untuk daftar dokter polisi tahun 2021 setelah masa intership,” pungkasnya.(asa/van)

Editor : Vandri
Penulis : Inasa

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...