Belajar dari Mirelle di Panggung Maiyah Cak Nun | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 22 Des 2019,

Amirul Mukminin tampil kemayu dan menarik perhatian di panggung Maiyah bersama Emha Ainun Najib. Ia sudah dua kali sepanggung dengan Cak Nun. Pertama saat Maiyah atau Sinau Bareng Cak Nun di Desa Sumberbrantas, Kota Batu dan kedua saat Maiyah di Kepanjen, Kabupaten Malang. Ia istimewa, karena secara mandiri melakukan konservasi sekitar 560 mata air di Jawa Timur.
Ia memang kemayu, nama yang dipakainya adalah Mirelle. Di panggung Maiyah itu, Cak Nun memintanya bercerita tentang kegiatan yang dilakoni. Selain menanam pohon di mata air, ia juga melepas ikan-ikan dan udang untuk mengembalikan ekosistem air.
"Kegiatan (konservasi.red) yang saya lakukan sejak tahun 2004. Yaitu dengan menebar segala  benih biji-bijian yang bisa di makan hewan di alam liar, menanam tanaman, ikan dan udang hias. Itu saya lakukan sendirian. Terkadang bersama adik saya," papar Mirelle kepada Malang Post.
Ia menceritakan apa yang dia lakukan dengan melepaskan ikan ikan hias kecil yan tidak berbahaya di mata air dan sungai-sungai, menebar udang dan berbagai macam tanaman agar bisa menetralisir logam berat dalam air. Karena saat ini tak bisa dipungkiri banyak pencemaran akibat linbah domestik hingga limbah industri yang dibuang ke sungai.
Apa yang ia lakukan bukan karena organisasi. Memang ia juga tidak punya kelompok atau organis. Karena menurutnya ketika ikut dalam organisasi akan terkait dengan sebuah aturan. Sehingg otoritas anggota bisa berubah, begitu juga tanaman yang ia sebar malah di panen mereka yang berkepentingan.
Mirelle yang saat ini tinggal di Jalan Raya Ngijo, Dusun Ngijo RT 01 RW 03 Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang mengungkapkan jika apa yang dilakoninya tersebut tak lepas dari kebiasaan yang kerjakan dulunya. Kebiasaan tersebut ketika ia menimba ilmu di pesantren.
"Pada saat di pesantren saya setiap hari mandi di sungai. Saat saya masih SD air sungai masih bersih dan jarang ada sampah. Kemudian semenjak saya SMP, saya mulai tertarik belajar tentang sungai, tentang tanaman di sekitar sungai dan binatang di sungai. Bahkan dulu saya suka menangkap ular untuk dijinakkan," kenangnya.
Lanjut laki-laki kelahiran Malang, 14 Februari 1988 ini, seiring berjalannya waktu semakin banyak sampah yang dibuang ke sungai. Pada akhirnya membuat air makin lama makin keruh dan bau.
"Karena saya sering berdiam diri di bebatuan di tepi sungai hanya untuk menikmati keindahan. Berlahan keindahan itu makin lama keindahan itu terkotori oleh sampah," keluhnya.
Dari situlah Mirelle mulai tertarik mencoba menata beberapa titik mata air untuk dijadikan taman kecil dengan berbagai macam ikan yang ia lepas dan menancapkan tanamannya. Ia melakukan konservasi hampir di 560 lebih mata air yang ia kunjungi di Jawa timur.
"Di setiap mata air yang saya kunjungi untuk konservasi. Saya tidak pernah putus asa dengan kegiatan yang saya lakukan sendirian. Walaupun ikan sering disetrum atau dipotas oleh beberapa orang dan mengakibatkan kerusakan lingkungan dan ekosistem," paparnya.
Setiap konservasi yang dilakukan, modal yang ia keluarkan untuk membeli ikan, tanaman dan udang tak banyak. Diungkapnya sekali konservasi ia tak sampai merogoh kocek sampai Rp 50 ribu. Dengan setiap bulan ia melakukan kegiatan tersebut hingga empat kali.
Mirelle menerangkan jika dirinya memulai konservasi pertama di tahun 2004. Dengan mengawali kegiatan di mata air Desa Ngenep, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kemudian di mata air Sumber Nyolo Sumber Sira di Bululawang, Kabupaten Malang. Di sana ia menebar benih udang dan ikan hias kecil.
Sedangkan paling jauh di Sumber Umbulan Pasuruan, sumber mata Air di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar dan aliran sungai di Jombang.
"Untuk konservasi di sumber Umbulan saya tanam tumbuhan air. Tapi sayangnya banyak tumbuhan air yang saya tanam dijarah orang tak bertanggung jawab," bebernya.
Dari ratusan mata air dan sungai yang ia kunjungi, Mirelle menceritakan sungai yang paling tercemar adalah sungai yang ada di daerah Surabaya. Karena sungai-sungai di ibu kota Jatim tersebut sudah berwarna hitam dan aromanya sangat bau dan menyengat.
"Untuk Jatim sungai yang paling kotor adalah di Surabaya karena limbah rumah tangga dan industri. Sehingga membuat tumbuhan air yang saya tanam tidak ada yang hidup," ungkapnya.
Sementara untuk area Malang Raya, diungkapnya masih aman dari limbah industri. Hanya limbah domestik atau limbah rumah tangga. Tapi ia juga tak menampik jika ada sungai yang perlu dilakukan konservasi.
Salah satunya sungai di desanya sendiri, Ngijo, Karangploso yang diungkapnya sudah tercemar dengan limbah pabrik tahu. Namun ia tak lelah untuk terus melakukan konservasi.
Sedangkan untuk tantangan banyak yang harus dihadapinya, terutama masyarakat yang acuh terhadap lingkungan. Beberapa di antaranya banyak orang yang merusak tanaman yang ia tanam dan menyetrum ikan dan udang yang ia lepaskan.
Karena itu, setiap ia melakukan konservasi selalu memberi tahu warga sekitar ikut menjaga lingkungannya. "Jadi setiap saya lakukan konservasi saya tekankan pada masyarakat agar ikut menjaga. Misalnya saya beri tahu kalau ikan yang saya lepas akan memakan limbah domestik. Kalau untuk tanaman air saya tekankan agar masyarakat tidak mengambilnya. Karena sebagai tempat berkembang biak ikan," terangnya.
Jika tidak merusak tumbuhan air dan membiarkan ikan-ikan berkembang biak. Nantinya masyarakat boleh memancing setelah ikan mulai banyak dan tumbuh besar. Dengan pengertian yang ia sampaikan dengan sederhana tersebut, lanjut Mirelle setidaknya membuat masyarakat ikut menjaga lingkungan.
Sementara di panggung Cak Nun, ia berkesempatan untuk bercerita tentang kerusakan lingkungan yang terjadi di sungai-sungai yang di Malamg Raya dan Jawa Timur. Karena tak banyak orang yang mewadahi cerita dari apa yang telah ia lakukan.
Laki-laki yang memiliki usaha aquaticplant atau berjualan ikan hias di rumahnya tersebut, juga merasa memiliki keluarga baru di Maiyah. Pasalnya dengan latar belakangnya saat ini yang mendapat perlakukan berbeda atau diskriminasi karena dipandang berbeda, di Maiyah ia dipandang seutuhnya sebagai manusia.
Selain itu, dengan naik panggung bersama Cak Nun, Mirelle juga sempat viral di Youtube. Karena latar belakangnya yang unik dan nyentrik. Namun lebih dari itu, banyak hal positif yang dilakukan dan dipelajari dari Mirelle untuk merawat dan menjaga lingkungan. Khususnya konservasi sungai dan mata air.(eri/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Keristyanto



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...