Bekal Penting Bagi Juru Dakwah | Malang POST

Sabtu, 29 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Bekal Penting Bagi Juru Dakwah

Minggu, 03 Nov 2019,

Judul         : Juru Dakwah yang Cerdas dan Mencerdaskan
Penulis     : Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag
Penerbit     : Prenadamedia Group (Divisi Siraja), Jakarta
Edisi         : I, September 2019
Tebal         : 167 halaman
ISBN    : 978-979-35423-3-1
Peresensi    : Umiarso
  Kaprodi Pendidikan Agama Islam FAI-UMM


MENJADI juru dakwah atau pendakwah sebenarnya bukan perkara yang mudah. Tidak sembarang orang patut disebut sebagai pendakwah. Bagaimanapun, seorang juru dakwah adalah penerus lisan suci Rasulullah saw, dan masyarakat melihatnya sebagai sosok yang mencerminkan ajaran Islam. Sementara, banyak orang yang merasa sanggup berdakwah tanpa mempelajari apa saja syarat-syarat menjadi juru dakwah yang cerdas dan mencerdaskan umat.
Kenyataannya, belakangan menjadi juru dakwah lebih mudah dari membuat SIM (surat izin mengemudi). Siapa pun bisa menjadi pendakwah, asal punya selera humor yang tinggi, mengutip beberapa potong ayat Qur’an dan Hadis serta menggunakan seragam tertentu. Padahal, ada sekian kriteria yang senyatanya melekat pada diri seorang pendakwah.
Ikhtiar buku buku Juru Dakwah yang Cerdas dan Mencerdaskan ini  ditujukan untuk membekali para (calon) aktivis dakwah dengan pengetahuan dan keterampilan praktis terkait konsep dakwah, kaidah-kaidah dakwah, seni berdakwah serta hal-hal pokok yang kiranya dapat memaksimalkan peran seorang juru dakwah sebagaimana yang diidealkan masyarakat.
Tulis Ahmad Fatoni, sukses atau tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur lewat gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula dengan ratap tangis sesenggukan para jamaah. Kesuksesan aktivitas dakwah dapat dilihat, antara lain, dari pengaruh yang membekas (atsar) dalam benak atau kesan yang terdapat dalam jiwa jamaah, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku keseharian mereka.
Banyak metode dakwah yang ditawarkan buku ini, seperti ceramah, diskusi, bimbingan, penyuluhan dan sebagainya. Semuanya dapat diterapkan sesuai dengan kondisi yang dihadapi (hlm.3).. Namun harus digarisbawahi bahwa metode yang baik sekalipun tidak menjamin hal yang baik secara otomatis, sebab metode bukanlah satu-satunya kunci kesuksesan. Akan tetapi, keberhasilan dakwah ditunjang dengan seperangkat syarat, baik dari pribadi da’i, cara penyampaian, kondisi jamaah, dan materi yang disampaikan.
Bagaimanapun, terjangan arus globalisasi kini semakin menggiring manusia ke pelbagai persoalan pelik yang tentu saja menuntut kreativitas para da’i dalam mengemas materi ceramah yang relevan dengan persoalan kekinian, termasuk mengonsep strategi dakwah untuk generasi milenial. Penulis menegaskan, konsep dakwah idealnya adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam memahami Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Dakwah yang dibutuhkan sekarang adalah yang mendorong ketahanan mental dan spiritual umat, dikarenakan pada lapisan bawah (masyarakat awam) khususnya, yang semakin mendesak adalah melepaskan diri dari persoalan hidup yang kian berat sehingga diperlukan proses penganekaragaman dalam kegiatan dakwah yang terus menerus. Sayangnya, materi yang disampaikan da’i sering kali berputar-putar pada persoalan fiqih saja, sehingga menyebabkan sempitnya pemahaman umat terhadap universalitas ajaran Islam.
Penulis buku ini sadar betul, banyak pemikir dakwah yang mencoba memecahkan problema dunia dakwah, baik pada tingkat wacana maupun praksis. Mereka memberikan analisa dan contoh bagaimana mengatasi persoalan dakwah masa kini yang semakin terkepung oleh himpitan hidup yang kian mengerikan. Dalam rangka itulah hajat buku ini dihadirkan sebagai salah satu rujukan bagi para (calon) da’i agar memiliki pengetahuan yang memadai untuk menyahuti isu-isu kemodernan dan tantangan kehidupan.
Dengan kehadiran buku ini, sudah saatnya kajian dakwah beralih pada paradigma baru, tidak lagi menggunakan paradigma konvensional yang cenderung mereduksi makna dakwah hanya sebatas “menyampaikan pesan” serta hanya menyalahkan kebodohan, mengambinghitamkan kemiskinan, dan mengutuk kemaksiatan dengan dalih memberantas kemunkaran. Paradigma baru pemikiran dakwah senyatanya lebih memaknai dakwah sebagai proses memotivasi umat agar mau mengubah dirinya sendiri.
Selain berpijak pada kaidah-kaidah dakwah, karya ini ingin menghadirkan paradigma pemikiran dakwah yang berorientasi pada perpaduan antara muatan keagamaan dan muatan nilai-nilai luhur yang tumbuh di masyarakat. Terlepas dari segala kekurangan, buku ini bisa dijadikan bekal penting bagi para aktivis dakwah agar menjadi da’i yang tidak saja cerdas, tapi juga mencerdaskan.

Editor : mp
Penulis : red

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet

Loading...