Azura Luna Jadi Buruan Interpol, Kuras Miliaran Rupiah | Malang Post

Senin, 27 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 14 Des 2019,

Nama perempuan Kediri, Azura Luna Mangunhardjono sedang menjadi pembicaraan internasional. Di Hong Kong ia jadi buruan, socialita gadungan yang menipu banyak orang kaya raya. Banyak pria yang tergila-gila dengan Azura Luna Mangunhardjono. Tak berdaya dibuai paras jelita Azura, para pria ini rela kuras duit miliaran rupiah untuk wanita yang belakangan buron karena menipu banyak orang.

Kasus Azura pertama kali terungkap oleh media lokal Hong Kong. Kasusnya kian ramai setelah South China Morning Post merilis laporan mengenai perempuan asal Kediri, Jawa Timur itu, dengan judul The Rise and Fall of Hong Kong Socialite Azura.

Dalam tulisan itu, Azura disebut melakukan serangkaian penipuan selama beberapa tahun terakhir dengan berpura-pura menjadi sosialita Hong Kong yang lahir dari keluarga amat kaya di Indonesia.

Kepada salah satu korbannya, seorang ahli teknologi asal New York, Jason, Azura mengaku sebagai salah satu putri Kraton dan kedua orang tuanya masuk di antara 10 orang terkaya di Indonesia.

Perempuan kelahiran 1978 itu juga mengaku tumbuh besar dengan berpindah-pindah antara London, Paris, dan Bali. Azura memaparkan dirinya juga memiliki 10 persen saham di Hotel Four Seasons, Central Hong Kong.

Hingga saat ini, keberadaan Azura Luna belum diketahui pasti. Namun, rekam jejaknya diingat jelas oleh mereka yang diduga korban penipuannya.

Asal-usulnya hingga kini masih dipertanyakan karena Azura mengungkap fakta yang berbeda pada setiap orang yang ditemuinya.
Melansir Vice.com, ia mengaku sosialita yang sering bepergian ke luar negeri dengan jet pribadi. Keluarganya masuk dalam 10 orang paling kaya di Indonesia. Untuk menopang gaya hidupnya yang mewah, ia punya penghasilan mencapai US$150 ribu sebulan ditambah oleh warisan ayahnya sebesar US$30 juta.
Azura menambahkan kalau ibunya adalah pengacara jet set yang pernah membantu pemenangan Bill Clinton sebagai presiden. Selain itu, Azura memiliki sebuah apartemen yang sangat mewah di Robinson Road, lengkap dengan rangkaian bunga dan baby grand piano.
Korban dijadikan pacar dan sahabat oleh Azura
Azura memang penipu ulung kelas dunia. Dengan hanya bermodal mulut manisnya, ia bisa membuat siapapun takluk dan menuruti apa yang ia mau. Azura menjerat korbannya dengan menjadikan mereka sosok yang dekat dengannya. Salah satu lelaki yang tertipu ratusan dolar karena bucin adalah Robert. Azura menjadikan Robert sebagai pacarnya lalu melakukan penipuan.
Saat pacaran dengan Robert, Azura meminta sang pacar untuk membantu pemakaman ayahnya sebesar US$150 ribu (sekitar 2 Miliar lebih). Selain itu, ia juga meminta tambahan donasi US$30 ribu demi sebuah kegiatan amal. Sayang, saat Robert memastikan hal itu kepada yayasan amal, tak ada penyumbang atas nama Azura atau Robert. Kejadian yang sama menimpa Diane, sahabat lama Azura. Ia meminjam lukisan mahal Diane untuk sebuah acara, namun lukisan itu tak pernah kembali lagi pada sang pemilik.
Sampai saat ini, para korban bersatu dan ramai-ramai melaporkan Azura pada pihak berwajib. Perempuan 41 tahun itu kini menjadi DPO dan orang paling diburu di Hong Kong. Tak hanya itu, banyak sekali orang yang sudah tertipu oleh Azura terkait hal-hal kecil, dari pembantunya yang belum dibayar selama 8 tahun, utang kepada pembersih karpet dan perawat bunga apartemennya, hingga kabur dari salah satu hotel Italia tanpa membayar.

Seperti apa sosok Azura Luna, dari mana asalnya?

Mundur ke tahun 2003, sebelum jadi sosialita, Azura Luna pindah ke Hong Kong. Kepindahannya ke sana karena menikah dengan pengusaha hotel, Brad Kirk. Namun pernikahannya kandas, Azura berpisah dengan Kirk sekitar sembilan tahun lalu.

Dikutip dari HaiBunda.com, sejak itu, ia terus-menerus bepergian ke luar negeri. Ia datang dari acara satu ke acara lain, kemudian melebarkan lingkaran pertemanannya.

Sampai akhirnya, beberapa orang mengaku ditipu olehnya membeberkan bahwa ia mengucap fakta yang berbeda.

Hingga kini belum ada yang bertemu orang tua Azura, atau orang tua tiri, terlepas dari kisahnya mengunjungi kerabat di perkebunan keluarga di luar Paris. Dalam sebuah unggahan Facebook, Azura menulis bahwa ibunya tinggal di San Sebastián de Los Reyes, Madrid, Spanyol.

Semua ucapan Azura itu berbeda lagi ketika diwawancara oleh Post Magazine. Ia menerima wawancara dalam bentuk video call. Dia menelepon, katanya dari Luanda, di Angola, tempat dia bekerja dengan organisasi amal.

Di sela-sela wawancara, saat ditanya asal-usulnya. Mata Azura mendadak berkaca-kaca, suaranya bergetar.

"Saya kehilangan orang tua ketika saya berusia 11 tahun. Mereka adalah humanitarian internasional dan tewas di Timor Timur, terperangkap dalam baku tembak, melindungi saya dari peluru," katanya.

"Ibu saya berasal dari Gujarat, di India, ayah saya adalah orang China-Belanda-Indonesia," sambungnya.

Ia menambahkan, orang tuanya telah bertemu di Madrid. Saat ibu Azura bekerja di museum Prado dan ayahnya sedang berkunjung dalam perjalanan backpacking jauh dari studinya di Jerman.

"Itulah alasan aku seorang hopeless romantic dan terlibat dalam semua masalah ini sepanjang waktu," ujarnya.

"Saya lahir di Jerman. Saya tidak pernah tinggal di Indonesia, kecuali di Bali ketika saya bersama calon suami saya," lanjut Azura.

Dia bertemu mantan suaminya, Brad Kirk di Grand Hyatt Jakarta. Ia mengaku kala itu dia membantu para tunawisma yang tinggal di dekat sungai yang sering banjir.

"Saya adalah seorang pengantin muda, mungkin 26, 27, 29 - itu adalah cinta pada pandangan pertama dengan Brad. Saya menjadi ibu dari dua anaknya. Saya benar-benar menikmati itu," ujar Azura.

Namun, di balik pemaparannya tentang asal-usulnya yang sangat meyakinkan itu. Seseorang yang disamarkan namanya memberi tahu. Nama asli sosialita itu bukan Azura Luna Mangunhardjono melainkan Enjang Widhi Palupi. Ia lahir di Kediri, 27 Oktober 1978. Itu adalah informasi yang didapatkan dari grup WhatsApp korban yang diduga tertipu oleh Azura.
Nama Aslinya Enjang Widhi Palupi
Cerita tentang Azura Luna Mangundardjono yang jadi buronan interpol Hongkong karena melakukan banyak penipuan menjadi perbincangan warga Kediri. Sebab, seperti kabar yang dirilis sejumlah berita, sosok sosialita itu berasal dari Kediri. Dan tengara bahwa wanita ini berasal dari Kediri dibenarkan salah satu teman sekolahnya.
Seperti apa sebenarnya sosok Azura Luna Mangunhardjono atau Enjang Widhi Palupi seperti nama aslinya di masa SMA? Salah satu temannya angkatan 1996 menuturkan kebiasaan Enjang –begitu nama panggilannya di sekolah- waktu berseragam putih abu-abu itu.
Diana Purna Sari, salah satu teman SMA mengaku, satu sekolah dengan Enjang. Perempuan asal Banyakan itu masuk ke SMAN 2 Kediri (Smada) pada 1993 dan lulus tahun 1996. “Jadi kami angkatan 96 di Smada,” kata Diana kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Diana mengaku, tidak pernah satu kelas dengan Enjang. Saat duduk di kelas tiga (sekarang disebut kelas 12), dirinya masuk kelas biologi. Sedangkan perempuan kelahiran 27 Oktober 1978 itu memilih jurusan sosial. “Seingat saya, dulu kelas dibagi tiga jurusan. Kelas fisika ada empat kelas, biologi dua kelas dan sosial tiga kelas. Kelas satu dan dua belum penjurusan,” ujarnya.
Meski tidak pernah sekelas, Diana mengaku, tahu sosok Enjang. Di sekolah, Enjang termasuk populer di mata beberapa teman satu angkatannya. Bukan karena prestasi akademiknya tetapi karena supel. “Gimana ya? pokoknya anaknya SKSD (sok kenal sok dekat, Red). Agak centil juga,” aku Diana.
Di masa sekolah, biasanya antara teman satu dengan yang lain akan dijodoh-jodohkan. Menurut Endang, saat sekolah dulu, Enjang juga merasakan hal demikian. “Dipacokno (dipasangkan, Red) dengan cowok. Dulu seringnya begitu,” kata perempuan 41 tahun ini.
Namun menurutnya penampilan Enjang dulu berbeda dengan sekarang yang dikenal masyarakat sebagai Azura Luna. Kata Diana, dulu penampilannya sangat sederhana. Tidak tampak seperti anak orang kaya raya. “Kulitnya juga tidak putih seperti sekarang (Azura Luna). Pokoknya sangat beda,” katanya.
Saat datang ke sekolah, kata Diana, anaknya sering menggunakan angkutan umum. Dari rumahnya di Banyakan, jaraknya rumahnya ke sekolah sekitar 8 kilometer (km). “Setahu saya tidak pernah diantarkan. Selalu naik angkot,” ungkapnya.
Di sekolah, Diana menambahkan, Enjang pernah ikut palang merah remaja (PMR). Namun soal aktivitasnya di PMR, Diana tidak banyak tahu. “Organisasinya itu yang diikuti. Kalau lomba-lomba setahu saya tidak pernah ikut,” ujar perempuan asal Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, Kota Kediri ini.
Selepas lulus SMA pada 1996, Diana mengakui kehilangan kontak dengan Enjang. Termasuk teman-temannya yang lain di satu angkatan. Karena itu, Diana tidak tahu apakah Enjang melanjutkan kuliah atau langsung bekerja.
Baru pada 2009 atau sekitar 10 tahun lalu, tiba-tiba namanya muncul di Facebook (FB) dengan nama akun “Azura Luna Mangunhardjono”. “Zaman itu kan FB sangat booming. Dia (Enjang) sudah pakai nama Azura Luna,” imbuhnya.
Di foto profilnya, banyak perubahan yang dialami Enjang. Menurut Diana, kulitnya lebih putih dibanding masa SMA. Gaya berpakaiannya juga lebih modis. Tidak lagi tampil sederhana seperti di sekolah dulu.
Meski banyak mengalami perubahan, Diana dan teman-temannya masih sangat mengenali wajah Enjang, teman sekolahnya dulu. Apalagi, setelah itu, Enjang atau Azura Luna mengundang teman-teman satu angkatannya datang ke Jakarta. “Yang diundang ada lima anak. Dipilih-pilih anak orang kaya. Salah satunya sahabat saya,” ucapnya.
Di Jakarta, dari cerita sahabatnya, kata Diana, Azura Luna menyewa sebuah hotel mewah. Dia mengajak lima temannya tersebut menginap di sana. “Dan memang benar Azura Luna itu ya Enjang. Waktu itu anaknya cerita banyak sebagai TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong,” katanya.
Sementara itu, Kepala Smada Sony Tatar Setya membenarkan Enjang Widhi Palupi pernah bersekolah di SMAN 2 Kediri. Sesuai tahun lulusnya, yang bersangkutan termasuk angkatan 1996. “Ya dulu memang pernah di Smada,” kata Sony.
Sementara itu, ketika Jawa Pos Radar Kediri menelusuri alamat yang tercantum di buku kenangan Enjang, Jalan Banyakan 22 Grogol, Kabupaten Kediri, rumah yang berlokasi di alamat itu adalah rumah besar berpagar warna oranye. Kondisinya tertutup dengan gembok terpasang di luar.
Namun, pemilik rumah itu bukan Wowok seperti nama ayah Enjang. Menurut Diro, seorang warga sekitar, nama pemiliknya adalah Arifin. Tapi sudah tidak dihuni sejak beberapa bulan terakhir.  “Pemilik rumahnya yang wanita sakit, dibawa ke rumah anaknya, di Kediri,” terang lelaki tersebut.
Ketika ditanya soal nama Wowok dan Enjang, Diro menggeleng. “Tidak ada itu, Mas, yang namanya Enjang. Kalau yang punya rumah sudah almarhum, tinggal ibu (istri, Red) almarhum saja,” terangnya.
Diro tidak mengenal Enjang, seperti yang tertulis dari alamat Banyakan 22 Grogol Kediri. Karena selama ia tinggal disana, Diro mengetahui bahwa rumah tersebut dari awal sudah ditempati oleh keluarga Arifin. “Anaknya masih kuliah, ibunya (istri Almarhum Arifin, Red) sakit, dan dibawa ke rumah anaknya yang satunya lagi di Kediri,” paparnya.(cnbc/jpg/ary)

Editor : Bagus
Penulis : net






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...