Anggaran Naik kok Banjir Terus | Malang POST

Sabtu, 29 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Anggaran Naik kok Banjir Terus

Sabtu, 07 Des 2019,

MALANG - Anggaran atasi banjir di Kota Malang terus meningkat sejak tahun 2018 hingga 2019 (baca grafis, red). Namun masih ada saja ruas jalan yang berubah jadi sungai saat hujan. Salah satu buktinya yakni di Jalan Soekarno Hatta saat hujan, Kamis (5/12).
Kawasan sekitarnya Jalan Candi Panggung, Jalan Kendalsari, Jalan Terusan Candi Mendut hingga Sudimoro pun masih langganan banjir. Berdasarkan catatan Malang Post, jika dihitung dua tahun terakhir sejak 2018, alokasi anggaran atasi banjir dari APBD Kota Malang sudah mencapai Rp 30 miliar. Ini belum ditambah tahun-tahun sebelumnya.  Sedangkan tahun 2020 mendatang, diusulkan anggaran sekitar Rp 20,6 miliar. Anggaran sebanyak itu untuk program seperti rehabilitasi drainase hingga pemeliharaan rutin drainase.
Warga pun mengeluh lantaran pemkot bagai tak punya solusi tepat atasi banjir. Seperti saat banjir Kamis (5/12) lalu, warga ramai-ramai curhat tentang masalah banjir yang masih saja terjadi di Jalan Soekarno Hatta.
Anggota Komisi C DPRD Kota Malang, Fuad Rahman menyoroti persoalan tersebut.
Menurut Fuad, banjir yang masih terjadi di lokasi langganan banjir walau sudah ada penanganan berarti ada yang salah. Menurut dia, penyebab banjir belum ditemukan secara tepat.
Politisi PKS ini mengurai, salah satu penyebab banjir yang tak ditanggapi serius yakni karena menyempitnya saluran drainase. “Drainase menyempit karena bangunan di atasnya dibiarkan. Ini yang harusnya ditegasi,” kata dia.
Fuad mengatakan masih ada saja bangunan di atas gorong-gorong yang dibiarkan. Ada pula yang dibiarkan menutupi drainase. Sementara penindakan tegas jarang dilakukan. Persoalan bangunan ini dulu sempat banyak ditemukan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta.
Ia meyakini hal inilah yang perlu diperhatikan lebih detail oleh dinas terkait. Bukan hanya normalisasi gorong-gorong saja yang dilakukan. Apalagi sudah terbukti meskipun dilakukan normalisasi gorong-gorong, banjir masih saja terjadi.
“Memang anggaran untuk perbaikan dan pembangunan drainase meningkat tapi kok ya masih banjir. Makanya pasti ada yang belum dilakukan. Masalahnya belum benar-benar ditemukan,” tandasnya.
Melihat kejadian di Jalan Soekarno-Hatta, Fuad menyimpulkan kawasan itu belum tuntas masalah banjirnya. Maka ia mengingatkan dinas terkait untuk menertibkan bangunan yang menutupi drainase.

Baca juga :

Hujan Badai, Plafon Puskesmas Kromengan Ambrol

Petugas Pemberangkatan KA Tewas Tertimpa Pohon

Badai Es, Bangunan Ambruk Timbun Mobil dan Driver Ojol


Ketegasan seperti tindakan pembongkaran bangunan dan sanksi bagi pemilik bangunan harus dilakukan oleh Pemkot Malang. Sedangkan lokasi lain seperti di kawasan Jalan Galunggung belum jelas penanganannya.   
“Untuk Jacking System di Tidar juga. Kami selalu menanyakan itu,  kapan bisa dilanjutkan. Informasi yang saya dapat terakhir dari sekda, akhir tahun ini legal standing dan opinion clear. Kita lihat saja dan tetap awasi,” kata dia.
 
Pemkot Beralasan Sampah di Drainase
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang Ir Hadi Santoso menjelaskan masih adanya genangan atau kawasan banjir di Kota Malang paling utama dikarenakan tersumbatnya sistem drainase.
“Setiap hari tim Satgas PUPR keliling. Tugasnya mengangkut dan membersihkan sampah yang menyumbat gorong-gorong. Dan selalu ada setiap hari,” jelasnya saat ditanya mengenai masih adanya titik banjir, khususnya di Jalan Soekarno Hatta.
Hal yang bisa dilakukan adalah rutin membersihkan gorong-gorong. DPUPR Kota Malang juga menganggarkan beberapa kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi banjir seperti pembangunan jaringan drainase. Selain itu melakukan pemeliharaan dan rehabilitasi sistem drainase.
Jika dilihat dari program kegiatan tersebut, di APBD 2018 lalu PUPR menganggarkan Rp 861 juta untuk program pembangunn saluran drainase dan Rp 12,7 miliar untuk kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan rutin drainase. Totalnya sekitar Rp 13,56 M untuk antisipasi banjir tahun itu.
Sementara di tahun 2019 ini, sebesar Rp 16,4 miliar dianggarkan untuk kegiatan pembangunan saluran drainase dan Rp 1 miliar untuk kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan.   
Meski begitu DPUPR Kota Malang menegaskan banjir dan genangan air karena pola atau kebiasaan masyarakat sendiri. Yakni membuat sarana aliran air tidak berjalan dengan baik di beberapa wilayah.
“Senin lalu (2/12) di Jalan Sunan Kalijaga Sumbersari dan Bareng yang juga langganan banjir mengalami luapan air dari drainase. Saat dicek ada sampah, kasur di dalamnya. Jadi air jelas meluap. Ya ini sekali lagi jangan halangi air mengalir dampaknya seperti ini,” tegas pria yang akrab disapa Soni ini.
Ditambahkannya dalam beberapa bulan terakhir ini tim telah melakukan normalisasi di 30 titik kawasan langganan banjir. Langkah tersebut sebagai antisipasi banjir saat datangnya musim hujan.
Ia menjelaskan titik tersebut yakni di antaranya wilayah Jalan Sumbersari, kawasan Merjosari, Tlogomas, Jalan Galunggung, sepanjang Sawojajar hingga kawasan Mojolangu.
Beberapa kawasan seperti Jalan  Wilis telah dibuatkan sistem jaringan drainase baru.
Tidak hanya itu dinas terkait lainnya seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang melakukan kegiatan antisipasi. Yakni memperbaiki dan menguatkan 15 plengsengan rawan bencana banjir di Kota Malang.
Selain itu terdapat satu program yang direncanakan lebih dari lima tahun lalu yang belum terealisasi hingga saat ini. Proyek Jacking System Tidar yang dibuat untuk atasi banjir terjadi di Jalan Galunggung.
Untuk hal ini, Wali Kota Malang Sutiaji sempat menyatakan bahwa proyek Jacking System Tidar masih dipastikan legal opinion dan legal standingnya. (ica/van)

Editor : Vandri
Penulis : Sisca

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet

Loading...