10 Tahun Lalu Menanam Pohon Trembesi di Kawasan Sawojajar | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 16 Nov 2019,

SETIAP KALI ada bencana, terutama di wilayah Kabupaten Malang, dia tidak pernah ketinggalan. Selalu siap dan siaga selama 24 jam. Adalah Bagyo Setiono Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang. Pria ramah ini, selalu aktif dalam kegiatan sosial. Di balik keaktifannya sebagai petugas penanggulangan bencana, ternyata pria kelahiran bulan September 1963 ini, juga peduli dengan lingkungan sekitar. Baik itu lingkungan di wilayah Kabupaten Malang ataupun Kota Malang.
Salah satu wujud nyata kepeduliannya terhadap lingkungan, yang kini bisa dirasakan oleh masyarakat adalah keberadaan pohon di pinggir jalan. Terutama di wilayah Sawojajar, Tidar serta Jalan LA Sucipto, Kota Malang. Pohon jenis trembesi yang kini usianya sekitar 10 tahun tersebut, dulunya ditanam oleh Bagyo.
"Saya menanamnya sekitar tahun 2008 - 2009. Saat itu saya mendapat bantuan bibit pohon trembesi dari Yayasan Budi Asih, ketika ada program penanaman pohon dari Pasuruan sampai Banyuwangi," terang Bagyo Setiono.
Ratusan bibit pohon tersebut, lanjutnya, langsung ditanam di beberapa titik. Selain sebagian juga dibagikan kepada teman-temannya untuk ditanam di sekitar tempat tinggalnya. "Kalau sekarang usianya mungkin sudah sekitar 10 tahun. Dulu menanam pohon tersebut, sama sekali tidak ada program. Hanya sekadar menanam saja. Kalau tumbuhnya bagus yang diteruskan, kalau jelek yang ditebang," ungkap Alumnus Universitas Brawijaya ini.
Alasannya menanam pohon di pinggir jalan waktu itu, karena melihat perubahan cuaca bahwa Malang sudah terasa panas. Oksigen semakin menipis, karena berkurangnya pohon di pinggir jalan. Dengan penanaman pohon tersebut, harapannya untuk mengurangi suhu udara panas. Pohon trembesi yang ditanam, memiliki sifat peneduh dan menyaring udara. Ketika malam, pohon trembesi ini tidur dan mengeluarkan O2 (oksigen). Termasuk mampu menyaring bau tak sedap, seperti bau selokan dan lainnya.
"Dulu waktu masih sekolah, pagi hari masih melihat kabut. Namun sekarang sudah jarang sekali karena berkurangnya pohon. Jujur, kalau melihat ada pohon besar ditebang, hati ini terasa menangis," ungkap pria berusia 56 tahun ini.
Warga Jalan Danau Paniai, Kelurahan Sawojajar, Kota Malang ini, mengatakan bahwa penanam pohon yang dilakukannya sama sekali tidak terprogram. Ketika dia mendapat bibit pohon, baik itu dibeli sendiri atau diberi oleh orang lain, langsung ditanam di tempat yang membutuhkan pohon. Kadang menanamnya di pinggir jalan, atau lahan kosong milik orang yang tidak terpakai. Ketika nantinya pohon yang ditanam ditebang oleh pemiliknya, tidak menjadi masalah.
"Untuk menanam pohon, tidak harus menunggu program atau waktu. Ketika ada bibit, saya langsung menanamnya. Bahkan, saya selalu sampaikan kepada teman-teman, ketika anaknya lahir untuk menanam pohon sebagai tetenger (tanda). Sehingga ketika anak dewasa, tahu usianya seusia pohon tersebut. Seperti pada saat anak saya lahir, juga tanam pohon di depan rumah," urai alumni SMA Negeri 3 Kota Malang ini.
Dari ratusan pohon yang sudah ditanamnya, saat ini sudah memberikan perbuahan. Wilayah yang ditanami pohon menjadi sejuk dan teduh. Selain itu, manfaat lainnya ketika pohon yang ditanam seperti mangga berbuah, maka bisa dinikmati.
Manfaat lainnya, untuk tempat singgah burung liar. Sehingga ketika pagi atau sore hari, bisa menikmati suara kicauan burung. "Makanya, ketika ada orang berburu burung saya sangat jengkel," katanya.
"Selain itu, manfaat lain dari pohon untuk mengantisipasi kekeringan. Karena semakin hari air menipis. Keberadaan pohon itu setidaknya bisa untuk menabung air," urai petugas perawat jenazah di RW tempat tinggalnya.
Sementara untuk kesehariannya sebagai petugas penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Malang, Bagyo selalu siap dan stand by selama 24 jam. Ketika ada situasi bencana yang memerlukan kehadirannya, langsung berangkat kapan pun waktunya tanpa ada beban.
Bahkan HP serta radio pesawat udara handy talky (HT), tidak pernah lepas dan jauh darinya. Karena dua alat tersebut, yang setiap waktu digunakan untuk komunikasi dan memantau kondisi wilayah Kabupaten Malang. Selain juga sebagai sarana untuk berkoordinasi.
"Pokoknya tiada hari tanpa siaga. Sehingga dua tahun sekali, beterai HP dan HT selalu rusak dan ganti, karena tidak pernah mati. Karena prinsip saya, ketika ditelpon orang pastinya butuh dengan saya. Apalagi, ketika dihubungi tersebut juga bagian menyambung silaturrahmi," pungkasnya. (agp/udi)

Editor : Mahmudi
Penulis : agung



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...